Selasa, 15 Juli 2014

Pengertian Kearifan Lokal dan Contohnya


1. Pengertian Kearifan Lokal (local wisdom)

Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

2. Local Genius sebagai Local Wisdom

Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Local genius ini merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales. Para antropolog membahas secara panjang lebar pengertian local genius ini (lihat Ayatrohaedi, 1986). Antara lain Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius adalah juga cultural identity, identitas/ kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:18-19). Sementara Moendardjito (Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan bahwa unsur budaya daerah  potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Ciri-cirinya adalah:

- Mampu bertahan terhadap budaya luar
- Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar
- Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli
- Mempunyai kemampuan mengendalikan
- Mampu memberi arah path perkembangan budaya

I Ketut Gobyah thiam mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai
keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kerifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun nilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. S.Swarsi Geriya dalam mengatakan bahwa secara konseptual, kearifan
lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Kearifan lokal dengan demikian adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan melembaga.

Dalam penjelasan tentang ‘urf. Pikiran Rakyat terbitan 6 Maret 2003 menjelaskan bahwa kearifan berarti ada yang memiliki kearifan (al-’addah alma’rifah), yang dilawankan dengan al-’addah al-jahiliyyah. Kearifan dadat dipahami sebagai segala sesuatu yang didasari pengetahuan dan diakui akal serta dianggap baik oleh ketentuan agama. Adat kebiasaan pada dasarnya teruji secara alamiah dan niscaya baik karena merupakan tindakan social yang berulang-ulang dan mengalami penguatan (reinforcement). Pergerakan secara alamiah terjadi secara sukarela karena dianggap baik atau mengandung kebaikan. Adat yang tidak baik hanya terjadi apabila terjadi pemaksaan oleh penguasa.

3. Contoh-Contoh dan Fungsi Kearifan Lokal  

Menurut Prof. Nyoman Sirtha bentuk-bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa: nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Oleh karena bentuknya yang bermacam-macam maka fungsinya tentu saja juga bermacam-macam.  

Fungsi dan makna kearifan lokal, yaitu:
- Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.
- Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate.
- Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan,
misalnya path upacara saraswati, kepercayaan dan pemujaan path pura Panji.
- Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.
- Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunallkerabat.
- Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.
- Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan penyucian roh leluhur.
- Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan
patron client.

Elly Burhainy Faizal mencontohkan beberapa kekayaan budaya, kearifan lokal di Nusantara yang terkait dengan pemanfaatan alam yang pantas digali lebih lanjut akna dan fungsinya serta kondisinya sekarang dan yang akan datang.

Kearifan lokal terdapat di beberapa daerah:
- Papua, terdapat kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku). Gunung Erstberg dan Grasberg dipercaya sebagai kepala mama, tanah dianggap sebagai bagian dan hidup manusia. Dengan demikian maka pemanfaatan sumber daya alam secara hati-hati.
- Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. Kelestarian lingkungan terwujud dan kuatnya keyakinan ini yaitu tata nilai tabu dalam berladang dan tradisi tanam tanjak.
- Dayak Kenyah, Kalimantan Timur, terdapat tradisi tana’ ulen. Kawasan
hutan dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat. Pengelolaan tanah
diatur dan dilindungi oleh aturan adat.
- Masyarakat Undau Mau, Kalimantan Barat. Masyarakat mengembangkan kearifan lingkungan dalam pola penataan ruang pemukiman, dengan mengklasifikasi hutan dan memanfaatkannya. Perladangan dilakukan dengan rotasi dengan menetapkan masa bera, dan
mereka mengenal tabu sehingga penggunaan teknologi dibatasi pada teknologi pertanian sederhana dan ramah lingkungan.
- Masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, Kampung Dukuh Jawa Barat. Mereka mengenal upacara tradisional, mitos, tabu, sehingga pemanfaatan hutan hati-hati. Tidak diperbolehkan eksploitasi kecuali atas ijin sesepuh adat.
- Bali dan Lombok, masyarakat mempunyai awig-awig.

Kearifan lokal dapat disimpulkan sebagai kepribadian, identitas kultural masyarakat yang berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat dan aturan khusus yang telah teruju kemampuannya sehingga dapat bertahan secara terusmenerus. Kearifan lokal pada prinsipnya benilai baik dan merupakan keunggulan budaya masyarakat setempat dan berkaitan dengan kondisi geografis secara luas. Oleh karena hakikat kearifan lokal yang demikian maka ia akan merefleksikan kondisi budaya Nusantara yang Bhineka Tunggal Ika.


Rabu, 30 April 2014


1.  Konsep Dasar Ilmu Alamiah Dasar
A.    Kompetensi dan Tujuan Mata Kuliah Ilmu Alamiah Dasar
Kompetensi dari mata kuliah IAD ini adalah agar menjadikan  warga negara Indonesia menjadi ilmuwan profesional yang berfikir kritis, kreatif, sistemik dan ilmiah, berwawasan luas, etis, estetis serta memiliki  kepedulian terhadap pelestarian sumberdaya  alam dan lingkungan  hidup,  serta mempunyai  wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  serta dapat ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah lingkungan hidup secara arif.     
Tujuan mata kuliah IAD ini adalah membentuk sikap mahasiswa terhadap alam sekitarnya.  Dengan demikian dalam perkuliahan  IKD tidak akan diberikan materi tentang dasar-dasar Ilmu Pengetahuan Alam yang meliputi Ilmu Fisika, Ilmu Kimia, Biologi dan Ilmu Bumi Antariksa. Tetapi yang akan disajikan adalah pengertian alam semesta  beserta  isinya,  gejala-gejala  yang  terdapat  di dalamnya  serta  pengelolaan  alam semesta  bagi  kebutuhan hidup manusia.

B.     Konsep Ilmu Alamiah Dasar dalam Kehidupan Bermasyarakat
Ilmu Alamiah (IA) sering disebut Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan akhir-akhir ini ada juga yang menyebut Ilmu Kealaman yang dalam bahasa Inggris disebut  Natural  Science atau  disingkat  Science dan  dalam bahasa  Indonesia  sudah lazim digunakan istilah Sains. IA  merupakan  ilmu  pengetahuan  yang  mengkaji gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk bumi ini, sehingga terbentuk  konsep  dan  prinsip.  Ilmu  Alamiah  Dasar  (Basic Natural  Science) hanya mengkaji  konsep-konsep dan prinsipprinsip dasar yang esensial saja.

C.    Lahirnya Ilmu Alamiah
Sebagaimana  telah  diterangkan  di  muka  bahwa manusia  sebagai  makhluk  hidup  melalui  pancainderanya memberikan  tanggapan  terhadap  semua  rangsangan, termasuk  gejala  di  alam semesta  ini.  Tanggapan  terhadap gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa alam merupakan suatu pengalaman. Pengalaman  tersebut  dari  zaman  ke  zaman  akan berakumulasi  karena  manusia  mempunyai  rasa  ingin  tahu atau  kuriositas  terhadap  segalanya  di  alam  semesta  ini.
Pengalaman  merupakan  salah  satu  cara  terbentuknya pengetahuan, yakni kumpulan fakta-fakta. Pengalaman itu akan bertambah terus selama manusia ada di  muka bumi  ini  dan mewariskan  pengetahuan  itu  kepada  generasi  berikutnya. Pertambahan  pengetahuan  (knowledge)  seperti  yang  telah dikemukakan didorong oleh: (1) dorongan untuk memuaskan diri  yang  bersifat  nonpraktis  atau  teoritis  guna  memenuhi kuriositas  dan memahami  hakikat  alam semesta  dan isinya serta (2)  dorongan praktis,  yang memanfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi. Kedua dorongan  itu  menumbuhkan  kemajuan  ilmu  pengetahuan. Dorongan  pertama  menuju  ilmu  pengetahan  mumi  (Pure Science), sedangkan  dorongan  kedua  menuju  ilmu pengetahuan terapan (Applied Science). Ilmu  Alamiah  merupakan  kegiatan  manusia  yang bersifat  aktif  dan dinamis.  Artinya,  kegiatan manusia  yang tiada  hentinya  dari  hasil  percobaan  akan  menghasilkan konsep, selanjutnya konsep tersebut mendorong dilakukannya percobaan berikutnya dan seterusnya.

2.  Alam Pikir Manusia Dan Perkembangannya
A.    Manusia yang Bersifat Unik
Manusia  sebagai  makhluk  hidup  umumnya mempunyai ciri-ciri:
·         Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus,  terutama otaknya
·         Mengadakan metabolisme atau penyusunan  dan  pembongkaran  zat,  yakni  ada  zat  yang masuk  dan  keluar
·         Memberikan  tanggapan  terhadap rangsangan dari  dalam dan luar
·         Memiliki  potensi  untuk berkembang
·         Tumbuh  dan  berkembang
·         Berinteraksi dengan lingkungannya
·         Bergerak
Bila kita bandingkan tubuh manusia dengan tubuh hewan  tingkat  tinggi  lainnya,  maka  tubuh  manusia  lemah. Namun,  rohani  manusia,  yaitu  akal-budi  dan  kemauannya sangat  kuat  sehingga dengan akal  budi dan kemauannya itu manusia  dapat  mengembangkan  ilmu  pengetahuan  dan teknologi.  Dengan kedua alat  itu,  manusia dapat  menguasai dan  mengungguli  makhluk  lain.  Akal  budi  dan  kemauan kerasnya adalah sifat  unik dari  manusia,  di  samping dapat belajar dan mengajar anaknya.

B.     Kuriositas  atau  Rasa  Ingin  Tahu  dan Akal-Budi
Rasa  ingin  tahu  atau  kuriositas  pada  hewan  itu didorong oleh naluri (instinct) dan oleh Asimov (1972) disebut idle curiosity. Naluri  itu bertitik pusat  pada mempertahankan kelestarian hidup dan sifatnya tetap sepanjang zaman. Manusia  mempunyai  naluri  seperti  tumbuhan  dan hewan,  tetapi juga mempunyai akal-budi sehingga rasa ingin tahu itu tidak tetap sepanjang zaman.  Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang.
Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dapat  dipuaskan.  Apabila suatu masalah dapat di dorong oleh naluri dan akal budi yang sifatnya tidak tetap sepanjang masa (selalu berkembang). Manusia bertanya terus setelah tahu apa, maka ingin  tahu  bagaimana  dan  mengapa. Manusia  mampu menggunakan pengetahuan yang telah lama diperoleh untuk dikombinasikan  dengan  pengetahuan  yang  baru  menjadi pengetahuan yang lebih baru lagi. kecuali  untuk memenuhi kepuasan manusia, Ilmu pengetahuan juga berkembang untuk keperluan  praktis  agar  hidupnya  lebih  mudah  dan menyenangkan.

C.    Ilmu dan Metode Keilmuan/ Ilmiah

Ilmu adalah Pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Dan ciri-ciri inilah yang membedakan Ilmu dan Pengetahuan lainnya. Salah satu ciri keilmuan adalah landasan ontologisnya, yaitu landasan yang didasarkan pada jawaban
yang diberikan oleh Ilmu terhadap pertanyaan-pertanyaan: apa?, bagaimana? dan mengapa? (meliputi berpikir, merasa dan mengindera). Obyek penelaahan Ilmu adalah seluruh segi kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Ilmu membatasi diri pada kejadian-kejadian yang bersifat empiris, yaitu yang terjangkau fitrah pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Ilmu mempelajari obyekobyek
empiris (induktif), misalnya: batuan, binatang ataumanusia. Pada dasarnya Ilmu merupakan sumber pengetahuan yang berfungsi memberikan penjelasan atau dugaan terhadap permasalahan yang dihadapi.

3. Perkembangan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam

Berdasarkan sejarah cara berpikir manusia, pada dasarnya terdapat dua cara pokok untuk memperoleh pengetahuan yang benar adalah:

1. Paham Rasionalitas: Cara berpikir yang didasarkan pada rasio
2. Pamaham Empirisme:  Cara berpikir yang didasarkan  pada pengalaman

Metode ilmiah adalah gabungan antara Paham Rasionalitas dan Pamaham Empirisme, yaitu merupakan cara dalam memperoleh  pengetahuan secara ilmiah. Segala kebenaran yang terkandung dalam Ilmu Almiah terletak pada metode ilmiah. Kelebihan dan kekurangan I.A. ditentukan oleh metode ilmiah, maka pemecahan segala masalah yang tidak dapat diterapkan metode ilmiah, tidaklah ilmiah.


Pertanyaan:
1.      Sebutkan dan jelaskan sifat unik dari manusia
2.      Jelaskan proses lahirnya ilmu pengetahuan
Jawab:
      1. Manusia  sebagai  makhluk  hidup  umumnya mempunyai ciri-ciri:
·                    Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus,  terutama otaknya
·                 Mengadakan metabolisme atau penyusunan  dan  pembongkaran  zat,  yakni  ada  zat  yang masuk dan keluar
·                    Memberikan  tanggapan  terhadap rangsangan dari  dalam dan luar
·                    Memiliki  potensi  untuk berkembang
·                   Tumbuh  dan  berkembang
·                   Berinteraksi dengan lingkungannya
·                   Bergerak
Bila kita bandingkan tubuh manusia dengan tubuh hewan  tingkat  tinggi  lainnya,  maka  tubuh  manusia  lemah. Namun,  rohani  manusia,  yaitu  akal-budi  dan  kemauannya sangat  kuat  sehingga dengan akal  budi dan kemauannya itu manusia  dapat  mengembangkan  ilmu  pengetahuan  dan teknologi.  Dengan kedua alat  itu,  manusia dapat  menguasai dan  mengungguli  makhluk  lain.  Akal  budi  dan  kemauan kerasnya adalah sifat  unik dari  manusia,  di  samping dapat belajar dan mengajar anaknya.
2.      Kebudayaan manusia ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi secara cepat yang merupakan akibat peran serta pengaruh dari pemikiran filsafat Barat. Pada awal perkembangannya, yakni zaman Yunani Kuno, filsafat diidentikkan dengan ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah antara pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan tidak dipisah, sehingga semua pemikiran manusia yang muncul pada zaman itu disebut filsafat. Pada abad Pertengahan, filsafat menjadi identik dengan agama, sehingga pemikiran filsafat pada zaman itu menjadi satu dengan dogma gereja. Pada abad ke-15 muncullah Renaissans kemudian disusul oleh Aufklaerung pada abad ke-18 yang membawa perubahan pandangan terhadap filsafat. Pada masa ini filsafat memisahkan diri dari agama, sehingga membuat orang berani mengeluarkan pendapat mereka tanpa takut akan dikenai hukuman oleh pihak gereja. Filsafat zaman modern tetap sekuler seperti zaman Renaissans, yang membedakan adalah pada zaman ini ilmu pengetahuan berpisah dari filsafat dan mulai berkembang menjadi beberapa cabang yang terjadi dengan cepat. Bahkan pada abad ke-20, ilmu pengetahuan, mulai berkembang menjadi berbagai spesialisasi dan sub-spesialisasi.
Perkembangan filsafat Barat dibagi menjadi beberapa periodesasi yang didasarkan atas ciri yang dominan pada zaman tersebut. Periode-periode tersebut adalah :
1. Zaman Yunani Kuno (Abad 6SM-6M)
Ciri pemikirannya adalah kosmosentris, yakni mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala. Dan beberapa tokoh filosof pada zaman ini menyatakan pendapatnya tentang arche, antara lain :
·         Thales (640- 550 SM)             :  arche berupa air
·         Anaximander (611-545 SM)   :  arche berupa apeiron (sesuatu yang tidak terbatas)
·         Anaximenes (588-524 SM)     :  arche berupa udara
·         Phytagoras (580-500 SM)       :  arche dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan.
Selain keempat tokoh di atas ada dua filosof, yakni Herakleitos (540-475 SM) dan Parmindes (540-475 SM) yang mempertanyakan apakah realitas itu berubah, bukan menjadi sesuatu yang tetap. Pemikir Yunani lain yang merupakan salah satu yang berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan adalah Demokritos (460-370 SM) yang menegaskan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang disebut dengan atom (atomos, dari a-tidak, dan tomos-terbagi). Selain itu, filosof yang sering dibicarakan adalah Socrates (470-399 SM) yang langsung menggunakan metode filsafat langsung dalam kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan dialektika (dialegesthai) yang artinya bercakap-cakap.  Hal ini pula yang diteruskan oleh Plato (428-348 SM). Dan pemikiran filsafat masa ini mencapai puncaknya pada seorang Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan adalah mencari penyebab-penyebab obyek yang diselidiki. Ia pun berpendapat bahwa tiap kejadian harus mempunyai empat sebab, antara lain penyebab material, penyebab formal, penyebab efisien dan penyebab final.

2. Zaman Pertengahan (6-16M)
Ciri pemikiran pada zaman ini ialah teosentris yang menggunakan pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma agama Kristiani. Pada zaman ini pemikiran Eropa terkendala oleh keharusan kesesuaian dengan ajaran agama. Filsafat Agustinus (354-430) yang dipengaruhi oleh pemikiran Plato, merupakan sebuah pemikiran filsafat yang membahas mengenai keadaan ikut ambil bagian, yakni suatu pemikiran bahwa pengetahuan tentang ciptaan merupakan keadaan yang menjadi bagian dari idea-idea Tuhan. Sedangkan Thomas Aquinas (1125-1274) yang mengikuti pemikiran filsafat Aristoteles, menganut teori penciptaan dimana Tuhan menghasilkan ciptaan dari ketiadaan. Selain itu, mencipta juga berarti terus menerus menghasilkan serta memelihara ciptaan.
3. Zaman Renaissans (14-16M)
Merupakan suatu zaman yang menaruh perhatian dalam bidang seni, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Zaman ini juga dikenal dengan era kembalinya kebebasan manusia dalam berpikir. Tokoh filosof zaman ini diantaranya adalah Nicolaus Copernicus (1473-1543) yang mengemukakan teori heliosentrisme, yang mana matahari merupakan pusat jagad raya. Dan Francis Bacon (1561-1626) yang menjadi perintis filsafat ilmu pengetahuan dengan ungkapannya yang terkenal “knowledge is power

4. Zaman Modern (17-19M)
Filsafat zaman ini bercorak antroposentris, yang menjadikan manusia sebagai pusat perhatian penyelidikan filsafati. Selain itu, yang menjadi topik utama ialah persoalan epistemologi.
a. Rasionalisme
Aliran ini berpendapat bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya. Pengalaman hanya dipakai untuk menguatkan kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh melalui akal. Salah satu tokohnya adalah Rene Descartes (1598-1650) yang juga merupakan pendiri filsafat modern yang dikenal dengan pernyataannya Cogito Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada). Metode yang digunakan Descrates disebut dengan a priori yang secara harfiah berarti berdasarkan atas adanya hal-hal yang mendahului. Maksudnya adalah dengan menggunakan metode ini manusia seakan-akan sudah mengetahui dengan pasti segala gejala yang terjadi.
b. Empirisisme
Menyatakan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah pengalaman, baik lahir maupun batin. Akal hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah a posteriori atau metode yang berdasarkan atas hal-hal yang terjadi pada kemudian. Dipelopori oleh Francis Bacon yang memperkenalkan metode eksperimen.
c. Kritisisme
Sebuah teori pengetahuan yang berupaya untuk menyatukan dua pandangan yang berbeda antara Rasionalisme dan Empirisme yang dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804). Ia berpendapat bahwa pengetahuan merupakan hasil yang diperoleh dari adanya kerjasama antara dua komponen, yakni yang bersifat pengalaman inderawi dan cara mengolah kesan yang nantinya akan menimbulkan hubungan antara sebab dan akibat.
d. Idealisme
Berawal dari penyatuan dua Idealisme yang berbeda antara Idealisme Subyektif (Fitche) dan Idealisme Obyektif (Scelling) oleh Hegel (1770-1931) menjadi filsafat idealisme yang mutlak. Hegel berpendapat bahwa pikiran merupakan esensi dari alam dan alam ialah keseluruhan jiwa yang diobyektifkan. Asas idealisme adalah keyakinan terhadap arti dan pemikiran dalam struktur dunia yang merupakan intuisi dasar.
e. Positivisme
Didirikan oleh Auguste Comte (1798-1857) yang hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif ilmiah. Semboyannya yang sangat dikenal adalah savoir pour prevoir, yang artinya mengetahui supaya siap untuk bertindak. Maksudnya ialah manusia harus mengetahui gejala-gejala dan hubungan-hubungan antar gejala sehingga ia dapat meramalkan apa yang akan terjadi. Filsafat ini juga dikenal dengan faham empirisisme-kritis, pengamatan dengan teori berjalan beriringan. Ia membagi masyarakat menjadi atas statika sosial dan dinamika sosial.
f. Marxisme
Pendirinya ialah Karl Marx (1818-1883) yang aliran filsafatnya merupakan perpaduan antara metode dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach. Marx mengajarkan bahwa sejarah dijalankan oleh suatu logika tersendiri, dan motor sejarah terdiri hukum-hukum sosial ekonomis. Baginya filsafat bukan hanya tentang pengetahuan dan kehendak, melainkan tindakan, yakni melakukan sebuah perubahan, tidak hanya sekedar menafsirkan dunia. Yang perlu diubah adalah kaum protelar harus bisa mengambil alih peranan kaum borjuis dan kapitalis melalui revolusi, agar masyarakat tidak lagi tertindas.
5. Zaman Kontemporer (Abad ke-20 dan seterusnya)
Pokok pemikirannya dikenal dengan istilah logosentris, yakni teks menjadi tema sentral diskursus para filosof. Hal ini dikarenakan ungkapan-ungkapan filsafat cenderung membingungkan dan sulit untuk dimengerti. Padahal tugas filsafat bukanlah hanya sekedar membuat pernyataan tentang suatu hal, namun juga memecahkan masalah yang timbul akibat ketidakpahaman terhadap bahasa logika, dan memberikan penjelasan yang logis atas pemikiran-pemikiran yang diungkapkan. Pada zaman ini muncul berbagai aliran filsafat dan kebanyakan dari aliran-aliran tersebut merupakan kelanjutan dari aliran-aliran filsafat yang pernah berkembang pada zaman sebelumnya, seperti Neo-Thomisme, Neo-Marxisme, Neo-Positivisme dan sebagainya.







Sumber: