1. Konsep Dasar Ilmu Alamiah Dasar
A.
Kompetensi
dan Tujuan Mata Kuliah Ilmu Alamiah Dasar
Kompetensi dari mata kuliah IAD ini adalah
agar menjadikan warga negara Indonesia
menjadi ilmuwan profesional yang berfikir kritis, kreatif, sistemik dan ilmiah,
berwawasan luas, etis, estetis serta memiliki
kepedulian terhadap pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup,
serta mempunyai wawasan tentang
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta dapat ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah lingkungan
hidup secara arif.
Tujuan mata kuliah IAD ini adalah
membentuk sikap mahasiswa terhadap alam sekitarnya. Dengan demikian dalam perkuliahan IKD tidak akan diberikan materi tentang
dasar-dasar Ilmu Pengetahuan Alam yang meliputi Ilmu Fisika, Ilmu Kimia,
Biologi dan Ilmu Bumi Antariksa. Tetapi yang akan disajikan adalah pengertian
alam semesta beserta isinya,
gejala-gejala yang terdapat
di dalamnya serta pengelolaan
alam semesta bagi kebutuhan hidup manusia.
B.
Konsep
Ilmu Alamiah Dasar dalam Kehidupan Bermasyarakat
Ilmu Alamiah (IA) sering disebut Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) dan akhir-akhir ini ada juga yang menyebut Ilmu Kealaman
yang dalam bahasa Inggris disebut
Natural Science atau disingkat
Science dan dalam bahasa Indonesia
sudah lazim digunakan istilah Sains. IA
merupakan ilmu pengetahuan
yang mengkaji gejala-gejala dalam
alam semesta, termasuk bumi ini, sehingga terbentuk konsep
dan prinsip. Ilmu Alamiah Dasar
(Basic Natural Science) hanya
mengkaji konsep-konsep dan
prinsipprinsip dasar yang esensial saja.
C.
Lahirnya
Ilmu Alamiah
Sebagaimana telah
diterangkan di muka
bahwa manusia sebagai makhluk
hidup melalui pancainderanya memberikan tanggapan
terhadap semua rangsangan, termasuk gejala
di alam semesta ini.
Tanggapan terhadap gejala-gejala
atau peristiwa-peristiwa alam merupakan suatu pengalaman. Pengalaman tersebut
dari zaman ke
zaman akan berakumulasi karena
manusia mempunyai rasa
ingin tahu atau kuriositas
terhadap segalanya di
alam semesta ini.
Pengalaman merupakan
salah satu cara
terbentuknya pengetahuan, yakni kumpulan fakta-fakta. Pengalaman itu
akan bertambah terus selama manusia ada di
muka bumi ini dan mewariskan pengetahuan
itu kepada generasi
berikutnya. Pertambahan
pengetahuan (knowledge) seperti
yang telah dikemukakan didorong
oleh: (1) dorongan untuk memuaskan diri
yang bersifat nonpraktis
atau teoritis guna
memenuhi kuriositas dan
memahami hakikat alam semesta
dan isinya serta (2) dorongan
praktis, yang memanfaatkan pengetahuan
itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi. Kedua dorongan itu menumbuhkan
kemajuan ilmu pengetahuan. Dorongan pertama
menuju ilmu pengetahan
mumi (Pure Science), sedangkan dorongan
kedua menuju ilmu pengetahuan terapan (Applied Science). Ilmu Alamiah
merupakan kegiatan manusia
yang bersifat aktif dan dinamis.
Artinya, kegiatan manusia yang tiada
hentinya dari hasil percobaan akan
menghasilkan konsep, selanjutnya konsep tersebut mendorong dilakukannya percobaan
berikutnya dan seterusnya.
2. Alam Pikir Manusia Dan Perkembangannya
A.
Manusia
yang Bersifat Unik
Manusia sebagai
makhluk hidup umumnya mempunyai ciri-ciri:
·
Organ tubuhnya kompleks dan sangat
khusus, terutama otaknya
·
Mengadakan metabolisme atau
penyusunan dan pembongkaran
zat, yakni ada
zat yang masuk dan
keluar
·
Memberikan tanggapan
terhadap rangsangan dari dalam
dan luar
·
Memiliki
potensi untuk berkembang
·
Tumbuh
dan berkembang
·
Berinteraksi dengan lingkungannya
·
Bergerak
Bila kita bandingkan tubuh manusia
dengan tubuh hewan tingkat tinggi
lainnya, maka tubuh manusia lemah. Namun,
rohani manusia, yaitu
akal-budi dan kemauannya sangat kuat
sehingga dengan akal budi dan kemauannya
itu manusia dapat mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kedua alat itu,
manusia dapat menguasai dan mengungguli
makhluk lain. Akal
budi dan kemauan kerasnya adalah sifat unik dari
manusia, di samping dapat belajar dan mengajar anaknya.
B.
Kuriositas atau Rasa
Ingin Tahu dan Akal-Budi
Rasa
ingin tahu atau
kuriositas pada hewan
itu didorong oleh naluri (instinct) dan oleh Asimov (1972) disebut idle
curiosity. Naluri itu bertitik pusat pada mempertahankan kelestarian hidup dan
sifatnya tetap sepanjang zaman. Manusia
mempunyai naluri seperti
tumbuhan dan hewan, tetapi juga mempunyai akal-budi sehingga rasa
ingin tahu itu tidak tetap sepanjang zaman.
Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang.
Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dapat dipuaskan.
Apabila suatu masalah dapat di dorong oleh naluri dan akal budi yang
sifatnya tidak tetap sepanjang masa (selalu berkembang). Manusia bertanya terus
setelah tahu apa, maka ingin tahu bagaimana
dan mengapa. Manusia mampu menggunakan pengetahuan yang telah lama
diperoleh untuk dikombinasikan
dengan pengetahuan yang
baru menjadi pengetahuan yang
lebih baru lagi. kecuali untuk memenuhi
kepuasan manusia, Ilmu pengetahuan juga berkembang untuk keperluan praktis
agar hidupnya lebih
mudah dan menyenangkan.
C. Ilmu
dan Metode Keilmuan/ Ilmiah
Ilmu adalah Pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Dan
ciri-ciri inilah yang membedakan Ilmu dan Pengetahuan lainnya. Salah satu ciri
keilmuan adalah landasan ontologisnya, yaitu landasan yang didasarkan pada
jawaban
yang
diberikan oleh Ilmu terhadap pertanyaan-pertanyaan: apa?, bagaimana? dan
mengapa? (meliputi berpikir, merasa dan mengindera). Obyek penelaahan Ilmu
adalah seluruh segi kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Ilmu
membatasi diri pada kejadian-kejadian yang bersifat empiris, yaitu yang
terjangkau fitrah pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Ilmu
mempelajari obyekobyek
empiris
(induktif), misalnya: batuan, binatang ataumanusia. Pada dasarnya Ilmu
merupakan sumber pengetahuan yang berfungsi memberikan penjelasan atau dugaan
terhadap permasalahan yang dihadapi.
3. Perkembangan
dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam
Berdasarkan sejarah cara berpikir manusia, pada dasarnya terdapat
dua cara pokok untuk memperoleh pengetahuan yang benar adalah:
1. Paham Rasionalitas: Cara berpikir yang
didasarkan pada rasio
2. Pamaham Empirisme: Cara berpikir yang didasarkan pada pengalaman
Metode ilmiah adalah gabungan antara Paham Rasionalitas dan Pamaham
Empirisme, yaitu merupakan cara dalam memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Segala kebenaran
yang terkandung dalam Ilmu Almiah terletak pada metode ilmiah. Kelebihan dan
kekurangan I.A. ditentukan oleh metode ilmiah, maka pemecahan segala masalah
yang tidak dapat diterapkan metode ilmiah, tidaklah ilmiah.
Pertanyaan:
1. Sebutkan
dan jelaskan sifat unik dari manusia
2. Jelaskan
proses lahirnya ilmu pengetahuan
Jawab:
1. Manusia sebagai
makhluk hidup umumnya mempunyai ciri-ciri:
· Organ tubuhnya kompleks dan sangat
khusus, terutama otaknya
· Mengadakan metabolisme atau
penyusunan dan pembongkaran
zat, yakni ada
zat yang masuk dan keluar
· Memberikan tanggapan
terhadap rangsangan dari dalam
dan luar
· Memiliki
potensi untuk berkembang
· Tumbuh
dan berkembang
· Berinteraksi dengan lingkungannya
· Bergerak
Bila kita bandingkan tubuh manusia
dengan tubuh hewan tingkat tinggi
lainnya, maka tubuh
manusia lemah. Namun, rohani
manusia, yaitu akal-budi
dan kemauannya sangat kuat
sehingga dengan akal budi dan
kemauannya itu manusia dapat mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kedua alat itu,
manusia dapat menguasai dan mengungguli
makhluk lain. Akal
budi dan kemauan kerasnya adalah sifat unik dari
manusia, di samping dapat belajar dan mengajar anaknya.
2.
Kebudayaan
manusia ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi secara
cepat yang merupakan akibat peran serta pengaruh dari pemikiran filsafat Barat.
Pada awal perkembangannya, yakni zaman Yunani Kuno, filsafat diidentikkan
dengan ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah antara pemikiran filsafat dan ilmu
pengetahuan tidak dipisah, sehingga semua pemikiran manusia yang muncul pada
zaman itu disebut filsafat. Pada abad Pertengahan, filsafat menjadi identik dengan
agama, sehingga pemikiran filsafat pada zaman itu menjadi satu dengan dogma
gereja. Pada abad ke-15 muncullah Renaissans kemudian disusul oleh Aufklaerung
pada abad ke-18 yang membawa perubahan pandangan terhadap filsafat. Pada masa
ini filsafat memisahkan diri dari agama, sehingga membuat orang berani
mengeluarkan pendapat mereka tanpa takut akan dikenai hukuman oleh pihak
gereja. Filsafat zaman modern tetap sekuler seperti zaman Renaissans, yang
membedakan adalah pada zaman ini ilmu pengetahuan berpisah dari filsafat dan
mulai berkembang menjadi beberapa cabang yang terjadi dengan cepat. Bahkan pada
abad ke-20, ilmu pengetahuan, mulai berkembang menjadi berbagai spesialisasi
dan sub-spesialisasi.
Perkembangan filsafat Barat dibagi
menjadi beberapa periodesasi yang didasarkan atas ciri yang dominan pada zaman
tersebut. Periode-periode tersebut adalah :
1. Zaman Yunani Kuno (Abad 6SM-6M)
Ciri pemikirannya adalah
kosmosentris, yakni mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya
sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala. Dan
beberapa tokoh filosof pada zaman ini menyatakan pendapatnya tentang arche, antara lain :
·
Thales (640-
550 SM)
: arche berupa
air
·
Anaximander
(611-545 SM) : arche berupa apeiron (sesuatu yang tidak
terbatas)
·
Anaximenes
(588-524 SM) : arche berupa udara
·
Phytagoras
(580-500 SM) : arche dapat diterangkan atas dasar
bilangan-bilangan.
Selain keempat tokoh di atas ada dua
filosof, yakni Herakleitos (540-475 SM) dan Parmindes (540-475 SM) yang
mempertanyakan apakah realitas itu berubah, bukan menjadi sesuatu yang tetap.
Pemikir Yunani lain yang merupakan salah satu yang berperan penting dalam
pengembangan ilmu pengetahuan adalah Demokritos (460-370 SM) yang menegaskan
bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang disebut dengan atom (atomos, dari a-tidak, dan tomos-terbagi). Selain itu, filosof
yang sering dibicarakan adalah Socrates (470-399 SM) yang langsung menggunakan
metode filsafat langsung dalam kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan
dialektika (dialegesthai) yang
artinya bercakap-cakap. Hal ini pula yang diteruskan oleh Plato (428-348
SM). Dan pemikiran filsafat masa ini mencapai puncaknya pada seorang
Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan
adalah mencari penyebab-penyebab obyek yang diselidiki. Ia pun berpendapat
bahwa tiap kejadian harus mempunyai empat sebab, antara lain penyebab material,
penyebab formal, penyebab efisien dan penyebab final.
2. Zaman Pertengahan (6-16M)
Ciri pemikiran pada zaman ini ialah
teosentris yang menggunakan pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma agama
Kristiani. Pada zaman ini pemikiran Eropa terkendala oleh keharusan kesesuaian
dengan ajaran agama. Filsafat Agustinus (354-430) yang dipengaruhi oleh
pemikiran Plato, merupakan sebuah pemikiran filsafat yang membahas mengenai
keadaan ikut ambil bagian, yakni suatu pemikiran bahwa pengetahuan tentang
ciptaan merupakan keadaan yang menjadi bagian dari idea-idea Tuhan. Sedangkan
Thomas Aquinas (1125-1274) yang mengikuti pemikiran filsafat Aristoteles,
menganut teori penciptaan dimana Tuhan menghasilkan ciptaan dari ketiadaan.
Selain itu, mencipta juga berarti terus menerus menghasilkan serta memelihara
ciptaan.
3. Zaman Renaissans (14-16M)
Merupakan suatu zaman yang menaruh
perhatian dalam bidang seni, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Zaman
ini juga dikenal dengan era kembalinya kebebasan manusia dalam berpikir. Tokoh
filosof zaman ini diantaranya adalah Nicolaus Copernicus (1473-1543) yang
mengemukakan teori heliosentrisme, yang mana matahari merupakan pusat jagad
raya. Dan Francis Bacon (1561-1626) yang menjadi perintis filsafat ilmu
pengetahuan dengan ungkapannya yang terkenal “knowledge is power”
4. Zaman Modern (17-19M)
Filsafat zaman ini bercorak
antroposentris, yang menjadikan manusia sebagai pusat perhatian penyelidikan
filsafati. Selain itu, yang menjadi topik utama ialah persoalan epistemologi.
a. Rasionalisme
Aliran ini berpendapat bahwa akal
merupakan sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya. Pengalaman hanya
dipakai untuk menguatkan kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh melalui
akal. Salah satu tokohnya adalah Rene Descartes (1598-1650) yang juga merupakan
pendiri filsafat modern yang dikenal dengan pernyataannya Cogito Ergo Sum (aku berpikir,
maka aku ada). Metode yang digunakan Descrates disebut dengan a priori yang secara harfiah
berarti berdasarkan atas adanya hal-hal yang mendahului. Maksudnya adalah
dengan menggunakan metode ini manusia seakan-akan sudah mengetahui dengan pasti
segala gejala yang terjadi.
b. Empirisisme
Menyatakan bahwa sumber ilmu
pengetahuan adalah pengalaman, baik lahir maupun batin. Akal hanya berfungsi
dan bertugas untuk mengatur dan mengolah data yang diperoleh dari pengalaman.
Metode yang digunakan adalah a
posteriori atau metode yang berdasarkan atas hal-hal yang
terjadi pada kemudian. Dipelopori oleh Francis Bacon yang memperkenalkan metode
eksperimen.
c. Kritisisme
Sebuah teori pengetahuan yang
berupaya untuk menyatukan dua pandangan yang berbeda antara Rasionalisme dan
Empirisme yang dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804). Ia berpendapat bahwa
pengetahuan merupakan hasil yang diperoleh dari adanya kerjasama antara dua
komponen, yakni yang bersifat pengalaman inderawi dan cara mengolah kesan yang
nantinya akan menimbulkan hubungan antara sebab dan akibat.
d. Idealisme
Berawal dari penyatuan dua Idealisme
yang berbeda antara Idealisme Subyektif (Fitche) dan Idealisme Obyektif
(Scelling) oleh Hegel (1770-1931) menjadi filsafat idealisme yang mutlak. Hegel
berpendapat bahwa pikiran merupakan esensi dari alam dan alam ialah keseluruhan
jiwa yang diobyektifkan. Asas idealisme adalah keyakinan terhadap arti dan
pemikiran dalam struktur dunia yang merupakan intuisi dasar.
e. Positivisme
Didirikan oleh Auguste Comte
(1798-1857) yang hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif
ilmiah. Semboyannya yang sangat dikenal adalah savoir pour prevoir, yang artinya mengetahui supaya siap
untuk bertindak. Maksudnya ialah manusia harus mengetahui gejala-gejala dan
hubungan-hubungan antar gejala sehingga ia dapat meramalkan apa yang akan
terjadi. Filsafat ini juga dikenal dengan faham empirisisme-kritis, pengamatan
dengan teori berjalan beriringan. Ia membagi masyarakat menjadi atas statika
sosial dan dinamika sosial.
f. Marxisme
Pendirinya ialah Karl Marx
(1818-1883) yang aliran filsafatnya merupakan perpaduan antara metode
dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach. Marx mengajarkan bahwa sejarah
dijalankan oleh suatu logika tersendiri, dan motor sejarah terdiri hukum-hukum
sosial ekonomis. Baginya filsafat bukan hanya tentang pengetahuan dan kehendak,
melainkan tindakan, yakni melakukan sebuah perubahan, tidak hanya sekedar
menafsirkan dunia. Yang perlu diubah adalah kaum protelar harus bisa mengambil
alih peranan kaum borjuis dan kapitalis melalui revolusi, agar masyarakat tidak
lagi tertindas.
5. Zaman Kontemporer (Abad
ke-20 dan seterusnya)
Pokok pemikirannya dikenal dengan
istilah logosentris, yakni teks menjadi tema sentral diskursus para filosof.
Hal ini dikarenakan ungkapan-ungkapan filsafat cenderung membingungkan dan
sulit untuk dimengerti. Padahal tugas filsafat bukanlah hanya sekedar membuat
pernyataan tentang suatu hal, namun juga memecahkan masalah yang timbul akibat
ketidakpahaman terhadap bahasa logika, dan memberikan penjelasan yang logis
atas pemikiran-pemikiran yang diungkapkan. Pada zaman ini muncul berbagai
aliran filsafat dan kebanyakan dari aliran-aliran tersebut merupakan kelanjutan
dari aliran-aliran filsafat yang pernah berkembang pada zaman sebelumnya,
seperti Neo-Thomisme, Neo-Marxisme, Neo-Positivisme dan sebagainya.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar